Exaggeration vs contrivance

Exaggeration vs contrivance

02 Maret 2015,   By ,   0 Comments

Banyak iklan yang sukses dengan sesuatu yang dilebih-lebihkan (exaggeration) dalam visualisasinya menyampaikan ide kepada konsumen. Disisi lain, sedikit iklan yang sukses dengan sesuatu yang dibuat-buat (contivance). Perbedaannya adalah “dilebih-lebihkan” di awali dari sebuah fakta, “dibuat-buat” tidak harus diawali oleh fakta. Untuk menentukan suatu iklan exaggeration dan contivance sebenarnya bisa dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana “apakah ini mungkin terjadi?”

Iklan bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk seni. Dan tidak dapat dipungkiri lagi, dimana ada seni pasti akan ada kritik. Karena tidak ada iklan yang sempurna secara keseluruhan, maka celah untuk kritik akan selalu ada. Jika sebagian besar orang yang berkecimpung di dunia periklanan menyukai iklan Anda, bisa dikatakan iklan Anda sudah bagus. Namun saat dimana terjadi perbedaan pendapat antara orang awam dan profesional. Dan hal ini bukan hal yang buruk, karena terdapat sisi reaksi di dalamnya. Akan lebih menyenangkan ketika mendengar seorang berkata “Aku suka iklan ini” atau “Aku tidak suka iklan ini” dibandingkan seseorang yang tidak peduli sama sekali.

Satu hal yang perlu Anda catat ketika akan meminta opini kepada seseorang tentang konsep iklan Anda, pastikan Anda bertanya lebih dulu “Apakah anda mengerti maksud iklan ini?” dan bukan “Apakah Anda suka dengan iklan ini?”. Dan Anda cukup menunjukkan iklannya, tanpa perlu repot menjelaskannya terlebih dahulu. Dan jika respon yang Anda dapatkan negatif atau tidak pasti, tanyakan “Menurut Anda, apa yang coba disampaikan iklan ini?”. Kemudian tanyakan kembali iklan yang sudah Anda edit ke orang yang berbeda, agar reaksi yang Anda dapat tidak terpengaruh iklan yang sebelumnya Anda buat.

Plagiat adalah “mengambil dan menggunakan ide orang lain sebagai miliknya sendiri”. Ada dua jenis plagiat dalam dunia advertising, yakni dari sesama pihak advertising dan oleh pihak non-advertising. Dalam dunia advertising, ada kecenderungan untuk menganggap normal proses “meminjam” bentuk seni dalam iklan, namun menentang dengan adanya “pembentukan kembali” konsep dan eksekusi dari sebuah iklan milik agensi periklanan lain. Disisi lain, mayoritas orang di luar advesrtising(termasuk calon klien Anda) tidak mempermasalahkan proses “peniruan” ide dari iklan.

Plagiat juga dapat dibedakan menjadi plagiat karena benar-benar tidak sadar(misalnya karena bekerja dalam dua proyek secara bersamaan dengan briefing yang tidak jelas) atau dengan tidak sadar mengambil ide dari suatu iklan yang pernah dilihat, atau dengan sengaja mengambil ide dari orang lain sambil berharap bahwa si pemilik ide aslinya tidak akan mengetahuinya. Tindakan terakhir inilah yang cenderung ditentang oleh banyak orang.
karenanya kita harus sadar bahwa :

ketika hasil karya kita tidak ditiru orang lain,
maka pada saat yang sama jangan meniru hasil karya orang lain

Mari kita ambil contoh iklan di atas, yakni iklan Castlemaine XXXX merek bir dari Australia. Anda dapat beragumen bahwa iklan tersebut dibuat-buat(karena hal itu tidak mungkin terjadi). Tapi perhatikan kata-kata penuntun dalam iklan tersebut (Australians wouldn’t give a XXXX to anything else) yang merupakan sesuatu yang dilebih-lebihkan. Mayoritas pasti percaya bahwa beberapa orang Australia suka minum bir dibandingkan hal yang lainnya. Dengan sedikit penambahan, mereka lebih memili XXXX daripada segala sesuatu/anything else, disinilah letak sifat yang dilebih-lebihkan.

australia

Iklan bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk seni. Dan tidak dapat dipungkiri lagi, dimana ada seni pasti akan ada kritik. Karena tidak ada iklan yang sempurna secara keseluruhan, maka celah untuk kritik akan selalu ada. Jika sebagian besar orang yang berkecimpung di dunia periklanan menyukai iklan Anda, bisa dikatakan iklan Anda sudah bagus. Namun saat dimana terjadi perbedaan pendapat antara orang awam dan profesional. Dan hal ini bukan hal yang buruk, karena terdapat sisi reaksi di dalamnya. Akan lebih menyenangkan ketika mendengar seorang berkata “Aku suka iklan ini” atau “Aku tidak suka iklan ini” dibandingkan seseorang yang tidak peduli sama sekali.

Satu hal yang perlu Anda catat ketika akan meminta opini kepada seseorang tentang konsep iklan Anda, pastikan Anda bertanya lebih dulu “Apakah anda mengerti maksud iklan ini?” dan bukan “Apakah Anda suka dengan iklan ini?”. Dan Anda cukup menunjukkan iklannya, tanpa perlu repot menjelaskannya terlebih dahulu. Dan jika respon yang Anda dapatkan negatif atau tidak pasti, tanyakan “Menurut Anda, apa yang coba disampaikan iklan ini?”. Kemudian tanyakan kembali iklan yang sudah Anda edit ke orang yang berbeda, agar reaksi yang Anda dapat tidak terpengaruh iklan yang sebelumnya Anda buat.

Plagiat adalah “mengambil dan menggunakan ide orang lain sebagai miliknya sendiri”. Ada dua jenis plagiat dalam dunia advertising, yakni dari sesama pihak advertising dan oleh pihak non-advertising. Dalam dunia advertising, ada kecenderungan untuk menganggap normal proses “meminjam” bentuk seni dalam iklan, namun menentang dengan adanya “pembentukan kembali” konsep dan eksekusi dari sebuah iklan milik agensi periklanan lain. Disisi lain, mayoritas orang di luar advesrtising(termasuk calon klien Anda) tidak mempermasalahkan proses “peniruan” ide dari iklan.

plagiarismPlagiat juga dapat dibedakan menjadi plagiat karena benar-benar tidak sadar(misalnya karena bekerja dalam dua proyek secara bersamaan dengan briefing yang tidak jelas) atau dengan tidak sadar mengambil ide dari suatu iklan yang pernah dilihat, atau dengan sengaja mengambil ide dari orang lain sambil berharap bahwa si pemilik ide aslinya tidak akan mengetahuinya. Tindakan terakhir inilah yang cenderung ditentang oleh banyak orang. karenanya kita harus sadar bahwa : ketika hasil karya kita tidak ditiru orang lain, maka pada saat yang sama jangan meniru hasil karya orang lain.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *