Tren “Halal” dalam Bisnis

Tren “Halal” dalam Bisnis

30 September 2015,   By ,   0 Comments

Two Egyptian women buy "breathable" nail polish from a store in a Dubai shopping mall

Jumlah konsumen muslim di dunia tersebar di berbagai negara merupakan potensi pasar yang sangat menjanjikan dengan karakteristik yang mereka miliki. Jumlahnya diperkirakan mencapai 1,6 miliar dari total populasi dunia. Thomson Reutors tahun 2013 melaporkan jumlah konsumsi makanan penduduk Muslim dunia mencapai sekitar USD 1.088 milliar atau 16,6 persen dari keseluruhan konsumsi global pada tahun 2013, dan diperkirakan akan terus tumbuh beberapa tahun ke depan.
Oleh karena itu, produk-produk bernuansa islami saat ini banyak diminati. Tidak hanya terbatas pada produk makanan yang halal, namun juga fashion, kosmetik, bahkan dalam hal travelling. Hal ini seharusnya menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim.

Tren Halal dalam Dunia Makanan

Hal ini sudah banyak dilakukan oleh pebisnis makanan di Indonesia. Sertifikasi halal oleh MUI menjadi salah satu kewajiban utama bagi pebisnis makanan yang ingin membidik pasar muslim di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia, tren ini juga terjadi di Amerika dengan kehadiran The Halal Guys di kota New York. The Halal Guys merupakan pioner dalam menyediakan makanan halal di New York yang saat ini sudah memiliki lebih dari 50 cabang di dunia.

The Halal Guys, Restoran yang menawarkan makanan halal di Kota New York

Selain itu, Nestle juga telah memproduksi makanan halal, khususnya Nestle Malaysia sudah memproduksi lebih dari 300 produk dan eksport di lebih dari 50 negara. Nestle membuktikan bahwa perusahaan non-muslim bisa mengarah pada pasar muslim dengan melakukan produknya sesuai dengan aturan islam agar bisa dikategorikan sebagai produk halal.

Tren Halal dalam Dunia Fashion dan Kosmetik

Indonesia merupakan pasar terbesar bagi fashion muslim dunia. Berbagai macam hal di industri fashion banyak yang memberikan label halal pada produknya, salah satunya adalah kosmetik. Di Indonesia, kosmetik yang memiliki sertifikasi halal banyak diminati oleh perempuan muslim, salah satunya brand yang sudah established yaitu Wardah. Wardah memposisikan mereknya secara islami sebagi kosmetik halal dengan menampilkan artis-artis berjilbab sebagai ikon. Selain wardah, muncul kosmetika Mazaya yang menggunakan tulisan arab untuk memasarkan produknya di pasar muslimah di Indonesia.

Mazaya, Merek kosmetik terbaru yang mengkhususkan produk untuk muslimah

Mazaya, Merek kosmetik terbaru yang mengkhususkan produk untuk muslimah

Selain itu terdapat juga beberapa tren seperti baju olahraga yang dikhususkan untuk perempuan berhijab, shampoo khusus untuk wanita berhijab seperti Capsters, Friniggi dan banyak produk yang memiliki segmentasi dan brand positioning sebagai produk islami. Dengan begitu, produk tersebut bisa mengambil pasar muslimah di Indonesia.

Tren Halal dalam Dunia Travelling

Pada tahun 2025, Muslim diprediksi sejumlah 1/3 dari jumlah populasi dunia. Mereka merupakan muslim dengan latar belakang pendidikan baik dan tentunya mengonsumsi produk dan jasa yang sesuai dengan ajaran agama. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Travelling. Di Indonesia, bisnis ini sudah marak dengan munculnya berbagai macam usaha travel yang berbasis islami dan menawarkan travelling dengan semangat spiritual.
Di dunia internet, bermuncul website-website yang memiliki rujukan travelling secara islami seperti Halal Trip dan Muslim Travel Warehouse. Dalam website tersebut menyajikan berbagai macam panduan bagi umat muslim dalam melakukan travelling, seperti bandara yang memiliki mushola dan restoran yang menyajikan makanan halal. Bisnis travelling yang bernafas islami menjadi salah satu peluang bisnis yang menarik saat ini.

###

Dengan semakin berkembangnya pasar muslim secara global, sebuah perusahaan dan bisnis seharusnya mempertimbakan aspek “halal” dalam bisnisnya. Tren halal merupakan salah satu cara dari branding secara Islami (Islamic Branding), sehingga bisnis tidak hanya menjadi sebuah ‘brand’ saja, namun memiliki nilai spiritual dan ‘believe’ bagi konsumennya. Dengan kegiatan branding secara islami, branding bisa berjalan beriringan dengan prinsip-prinsip syariah islam dan menawarkan nilai-nilai religiusitas bagi pasar muslim.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *