The Headline

The Headline

By ,   No tags,   0 Comments
The Headline

PROLOG
Headline, Jika dilihat dari segi isinya, maka iklan di media cetak (termasuk poster maupun koran dan majalah) dibagi menjadi tiga tipe dasar, yaitu : Headline saja, Visual saja, Headline dan Visual (atau “visual-verbal”). Sedangkan komponen lain meliputi gambaran produk/logo, sub-headline, paragraf, dan tagline.

Eksekusi yang diambil dalam kampanye iklan tentunya harus terlihat dan terasa konsistennya. Itulah yang membuat kampanye iklan menarik. Karena itu, iklan di media cetak tidak dianjurkan menggunakan campuran antara tipe headline saja, visual saja, atau headline dan visual. Meskipun begitu, hindari sebuah proyek dengan pemikiran “Saya akan membuat kampanye iklan dengan tipe headline saja!” (atau visual saja, atau headline dan visual). Cobalah dari ketersediaan ide terlebih dahulu lau kemudian terapkan ke dalam tiga metode dasar tadi. Jika dirasa cocok dan sesuai visi kampanye iklan, maka metode tersebut dapat digunakan seterusnya dalam kampanye iklan tersebut.

PENGGUNAAN TANDA BACA & GAYA PENULISAN
Iklan media cetak yang terutama menggunakan paragraf panjang di dalamnya, akan biasa ditemukan penggunaan gaya penulisan seperti tanda baca, italic/miring, atau bahkan bergaris bawah. Hal ini dimaksudkan untuk menambah penekanan di dalam teks. Hal yang sama sangat jarang dilakukan dalam headline ataupun tagline. Alasannya terdapat pada contoh tagline yang terkenal dari brand Nike: Just Do It.

just-do-it

Tagline ini seakan berkata secara halus “lakukan saja”, sebuah pesan yang disampaikan secara jelas dan kuat tanpa perlu tambahan apapun. Namun bayangkan jika kita menambah gaya penulisan di dalamnya. Misalkan saja menjadi Just Do it!. Tagline ini memang terasa lebih “mengena” namun juga terasa “memaksakan” perhatian dari audiensnya dan tentunya bukanlah hal yang baik. Hal ini dapat dianalogikan dengan seseorang yang stay cool akan lebih menarik dibandingkan seseorang yang suka mencari perhatian secara berlebihan.

Bisa disimpulkan bahwa tagline yang Anda buat masih membutuhkan tanda baca atau gaya penulisan, maka besar kemungkinan tagline tersebut masih belum ideal. Gunakan tanda baca atau gaya penulisan yang dirasa memang benar-benar memiliki alasan kuat. Salah satu contoh yang jarang terjadi dalam penggunaannya tanda baca dalam tagline adalah dalam iklan MTV tahun 1982 yaitu “I Want My MTV!”. George Lois, kreatif dari iklan tersebut terinspirasi dari poster klasik yang melambungkan nama Paman Sam, yaitu poster “I Want You For Us Army” karya James Montgomery Flagg. Tentunya tanda seru di dalam tagline MTV memberi kesan yang santai dan tidak serius di dalam iklannya, karena sesuai dengan target market-nya. Maka dari itu , jika memang tidak diperlukan tanda baca dan gaya bahasa di dalam tagline, sebaiknya hindari pemakaian hal tersebut.

Exaggeration vs contrivance

Don’t Tell, Show!!

Don’t tell, show!! Hal ini merupakan argument lama, namun masih tetap relevan dengan kondisi saat ini. Sudah menjadi pengetahuaan umum bahwa gambar mampu menceritakan jutaan kata. Dengan mempertimbangkan waktu yang sempit untuk mengkomunikasikannya kepada konsumen, pasti gambar menjadi pilihan yang tepat dibandingkan pilihan kata-kata. Manusia merupakan makhluk visual, maka dari itu manusia selalu tertarik pada iklan yang bersifat visual dibandingkan sekedar teks. Gambar disamping tentunya lebih menarik dibandingkan dengan hanya mengatakan “Kaca yang Anda jual dapat meredam suara bising dengan ampuh”.

Dictionary Definition Ads

Dictionary Definition Ads dapat diartikan sebagai iklan yang menjabarkan kelebihan dari produknya hanya dengan definisi dari kelebihannya tersebut dalam kamus. Iklan seperti ini terlihat klise dalam print advertising karena “ide” dari iklan ini bisa dipergunakan untuk semua jenis produk atau jasa. Secara umum, iklan “dictionary” adalah iklan yang menjabarkan tentang nama produk dan/atau keuntungan dari produk tersebut dengan kata-kata yang misalnya :

Cropping and Framing

Cropping and framing, seiring berjalannya waktu terkadang elemen dalam sebuah iklan akan berkurang dengan sendirinya  dari kampanye ke kampanye, membentuk menjadi versi yang baru dan lebih simpel. Misalnya penyederhanaan tagline atau logo McDonald’s “We love to see you smile” berubah menjadi “smile”; dan logo asli Nike/logo centang dikurangi kata “nike” dengan hanya meninggalkan logo centang saja. Pada kedua kasus tersebut, konsumen mempunyai hubungan atau mengerti dengan iklan tersebut sebelumnya, versi “gemuk”-nya tentu saja, maka dari itu ide yang baru bisa tersampaikan dan tetap bekerja.

Creative Thinking Process

WHAT DO YOU WANT TO SAY?
Creative thinking process, Langkah awal dalam proses pembuatan iklan adalah menentukan gagasan utama tentang apa yang ingin disampaikan tentang produk/layanan tersebut. Sebaiknya Klien Anda (produsen/jasa) tahu akan hal itu, jika tidak atau mungkin kita hadapkan pada produk/layanan baru, maka langkah awalnya ketika hal itu terjadi adalah melalui pendekatan tentang apa yang dijanjikan oleh produk/layanan, maksudnya memulainya dari keuntungan dan kelebihan yang dimiliki oleh Produk/layanan tersebut.

Creative Advertising Yang (Tidak) Efektif : Apa Produknya?

Creative advertising Sudah banyak sekali iklan yang terlihat tidak original dan tidak kreatif, menjadikannya mudah terlupakan tanpa membawa hasil.  Ada iklan yang dikenal hanya sebagai iklan, dengan kata lain produk yang ditawarkan terlupakan. Hal ini menimbulkan banyak kerugian, baik waktu dan biaya. Kesimpulannya, bahwa membuat iklan yang hanya melekat di benak konsumen saja masih belum cukup, maka dari itu disinilah Branding sangat diperlukan. Namun sebuah branding yang baik tidak menjadi jaminan bahwa produk yang ditawarkan akan terjual.Diperlukan relevansi antara iklan dan produk itu sendiri.Dapat disimpulkan bahwa:

brand consultant service

Membangun sebuah brand, dalam sudut pandang Brand Consultant Indonesia kurang lebih seperti membangun seperti membangun hubungan antar personal, dimana kita harus pandai “menjual diri” kita dalam rangka mendapatkan pengakuan dari pihak lain. Begitu pula halnya dengan brand, proses yang harus dijalaninya pun serupa. Semisal sebelum kita dikenal orang lain, tentunya kita harus mengetahui dulu jati diri kita, identitas diri kita, agar tidak ada keraguan ketika kita menjelaskan panjang lebar tentang diri kita kepada orang lain. Sedangkan pada brand, jati dirinya merupakan Brand Essence, yakni jiwa, sikap dasar, dan segala nilai yang mendasari sebuah brand. Brand essence-lah yang kemudian menjadi “tema besar” dari berbagai hal yang berhubungan dengan brand.

Brand Consultant Jakarta

Brand Consultant Jakarta, dari label ini saja, tentunya ada sebuah prestige tersendiri berbisnis di ibukota bukan? Jakarta, sebagai sebuah ibu kota suatu negara, wajarlah jika Jakarta menjadi pusat bagi berbagai bisnis di Indonesia. Bahkan jika tidak memungkinkan memiliki kantor pusat di Jakarta, minimal memiliki branch office disana. Pun begitu bagi sebuah Brand Consultant Indonesia, banyak yang berlomba-lomba menempati wilayah ibukota, Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya adalah, Jakarta tentunya memiliki prestige tersendiri bagi kalangan bisnis, maupun kalangan awam, sebagai kota besar yang tentunya diharapkan mampu membuka peluang baru bagi bisnisnya. Meskipun tidak menjamin keberhasilan bisnis, namun dengan memiliki prestige seperti ini, maka brand kita sudah besar dimata orang lain, in terkait dengan penempatan posisi kita, dengan hal itu, persepsi yang positif pun bisa dibangun di calon klien.


1 86 87 88 89 90 91 92